Where there's a Will, There's a Way

Cobaan merupakan rangkaian lika - liku hidup menghasilkan hikmah yang menarik sekali untuk di tilik, ini adalah kisah salah satu Residen yang pastinya menarik disimak dan banyak sekali mengandung pelajaran.

Memetik Hikmah Kehidupan Nabi Muhammad Saw

Setiap orang tentu mengharapkan kehidupannya lebih baik, lebih terarah. Untuk memperolehnya tidak perlu mencoba - coba apalagi bertaruh. Cukup pilih role model dalam hidup agar lebih mudah, dan tentu role model terbaik bagi manusia adalah Nabi Muhammad Saw.

Pengantar Aqidah Islamiyah

Ilmu agama berdiri dari beberapa pilar - pilar, salah satu pilar utama dan terpenting adalah Akidah.

Mati Urusan Pribadi

Jangan tertipu dengan usia muda, karena syarat mati tidak harus tua.

Qailullah (Tidur Siang)

Di Era ini, banyak orang mengeluhkan jam bilogisnya mulai tidak teratur dan kacau.Padahal produktifitas sangat dituntut. Oleh karena itu menyempatkan tidur siang sangat dianjurkan, lalu apa kata Islam?

Tampilkan postingan dengan label Notulensi Ta'lim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Notulensi Ta'lim. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 April 2015

KURMA (Kupas Tuntas Seputar Ramadan) bagian 2 Mengajak Nafsu Menikmati Ramadhan




Selasa, 21 April 2015
Pemateri : Ustaz Ahmad Rofiqi L.c.



Pernahkah sahabat mendengar ungkapan bahwa Allah membelenggu setan ketika Ramadan? Ya, pada bulan Ramadan Allah meringankan gangguan dari luar diri kita untuk menjalankan ketaatan kepada Allah SWT dengan membelenggu setan. Mari kita simak hadits berikut ini.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra., bahwasanya Rasul SAW bersabda: “Apabila telah datang Ramadan, pintu-pintu surga dibukakan, pintu-pintu-pintu neraka ditutup rapat dan setan-setan dibelenggu.” 
Walaupun begitu, tidak sedikit dari kita yang masih merasa berat untuk beribadah selama bulan Ramadan. Hal tersebut dapat disebabkan karena ketidakmampuan kita untuk mengendalikan hawa nafsu. Bagaimanakah hawa nafsu memengaruhi kualitas Ramadan kita? Apakah hawa nafsu itu sebenarnya? Sebelum membahas jauh tentang Ramadan, mari kita kenali hawa nafsu itu sendiri.

Unsur yang membentuk diri kita
Manusia diciptakan terdiri dari 2 unsur, basyr dan ruh. Unsur basyr merupakan unsur fisik atau materi  manusia berupa jasad yang diciptakan dari tanah dan dihuni oleh ruh manusia. Unsur basyr mengalami proses penciptaan manusia di dalam rahim ibu. Unsur basyr inilah yang memungkinkan kita untuk menjalankan fungsi manusia makan, tidur, berlari, berjalan, bekerja, lebih jauh menjalankan fungsi kita sebagai khalifah.
Unsur kedua yaitu unsur ruh. Unsur ruh merupakan bagian dari manusia yang bersifat nonmateri. Unsur ruh lah yang membuat basyr hidup. Unsur ini tercipta terlebih dulu sebelum unsur basyr dan penggabungan dua unsur tersebut tidak diketahui prosesnya.
“Sesungguhnya salah seorang diantara kalian dipadukan bentuk ciptaannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari (dalam bentuk mani) lalu menjadi segumpal darah selama itu pula (selama 40 hari), lalu menjadi segumpal daging selama itu pula, kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh pada janin tersebut, lalu ditetapkan baginya empat hal: rizkinya, ajalnya, perbuatannya, serta kesengsaraannya dan kebahagiaannya.” (H.R. Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu 'anhu).
Perpaduan antara ruh dan basyr diistilahkan dengan an-nafsu. Dalam surat Asy-Syams, Allah Swt menerangkan:
“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Q.S. Asy-syams (91): 7-10)

Potenti taat dan fujur pada manusia
Pada dasarnya Allah SWT telah mengilhamkan potensi taat dan fujur kepada setiap manusia. Potensi taat merupakan potensi keimanan manusia menuju kesempurnaannya sebagai hamba Allah, dan potensi ini dikendalikan oleh unsur ruhiyah manusia. Sedangkan potensi fujur dikendalikan oleh basyr, suatu potensi yang apabila dipisahkan dari unsur ruhiyah maka sifat manusia tersebut akan menyerupai binatang. Ketika seorang manusia meninggalkan potensi taat yang dikendalikan ruhiyah, maka manusia tersebut sifatnya akan menyerupai binatang yang hanya menjalankan fungsi makan, tidur, bekerja. Unsur fujur bukanlah dosa karena memang itu adalah fitrah kemanusiaan, dosa ada pada penyalahgunaan potensi tersebut untuk berbuat maksiat.
Lalu apa kaitannya taat dan fujur dengan hawa nafsu? 
Basyr dan ruh merupakan unsur nafsu yang memiliki untuk potensi taat dan fujur. Potensi tersebut adalah fitrah manusia yang tidak perlu dihilangkan melainkan diselaraskan dengan tujuan menjadikan manusia makhluk yang bertaqwa dan selaras dalam kehidupannya sehingga bisa menjadi khalifah di bumi ini.
Menurut Al Qur’an, nafsu ada 3 macam:
1.      Nafsu amara yaitu nafsu yang mendorong manusia untuk berbuat dosa. Nafsu seperti ini terdapat dalam surat Yusuf yang mengisahkan keinginan Zulaikha untuk berhubungan dengan Nabi Yusuf as.

Nafsu amara terdiri dari 4 jenis:
a.       Al-malaqiyah yaitu nafsu berupa menuhakan diri sendiri selalu ingin menang, dan ingin diagungkan seperti Fir’aun dan Qarun.
b.      Asy-syaitoniyah yaitu membangkang, mengetahui kebenaran tetapi memilih membankang seperti sifat syaitan. Sifat ini dimiliki oleh orang-orang liberal, atau aliran sesat lain, syiah.
c.       Sab’iyah yaitu sifat yang dimiliki hewan-hewan pemangsa dan ganas yang suka memangsa seperti harimau seperti marah, memusuhi, iri, dengki, hasad, dll.
d.      Al-bahimiyah yaitu sifat hewan ternak, yaitu hanya makan, tidur, bersenggama, banyak bicara, dan inilah sifat yang paling banyak ditemui pada manusia saat ini.

2.      Nafsu lawamah yaitu nafsu yang mencela diri kita saat berbuat maksiat, nafsu yang memunculkan perasaan gelisah setelah berbuat dosa, disadari atau tidak. Nafsu lawamah adalah nafsu yang telah mengenal kebaikan.

Dari Nawwas bin Sam’an radhiallahuanhu, dari Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda : “Kebaikan adalah akhlak yang baik, dan dosa adalah apa yang terasa mengaggu jiwamu dan engkau tidak suka jika diketahui  manusia.” (Riwayat Muslim)

3.      Nafsu mutma’inah jiwa yang telah mendapat ketenangan; telah sanggup untuk menerima cahaya kebenaran sang Ilahi. Terdapat dalam surat Al Fajr ayat 27-28. Nafsu ini dimiliki oleh orang-orang yang dekat dengan Allah.

Hai jiwa yang tenang, kembalilah kamu kepada Tuhanmu dengan ridho dan diridhoi.” (QS Al Fajr: 27-28)

Bagaimana kemaksiatan terjadi?
Perbuatan maksiat yang kita lakukan terjadi karena nafsu amara mengalahkan kendali ruhiyah. Allah menjelaskan sifat orang-orang yang memenuhi neraka jahanam dalam firmannya:
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi.  Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (Q.S. Al-a’raf: 179)
Saat fujur mendominasi, kemudian kehilangan kendali ruhiyah maka tak ada ketaatan pada Allah, selain hidupnya hanya memenuhi keinginan dan kebutuhan fisik nya saja, jika manusia seperti ini maka apa bedanya dengan hewan ternak yang hidupnya hanya makan, tidur, bereproduksi.
Nafsu amara yang dididik untuk mengenal dan memahami kebenaran maka akan naik tingkat menjadi nafsu lawamah, nafsu yang akan mencela diri dan bergejolak ketika kita melakukan maksiat. Ketika nafsu lawamah yang mencegah kita berbuat maksiat ini kita turuti maka nafsu ini akan naik tingkat menjadi nafsu mutma’inah. Pada kondisi ini lah kita mampu menselaraskan unsur dari diri kita yaitu ruh dan basyr. Keselarasan ini lah yang insha Allah mampu membuat kita menjalankan fungsi khalifah di muka bumi. Ketika makan yang sehat dan tidak berlebihan, ketika kita bekerja maka kerjanya tak hanya untuk semata-mata mencari uang tetapi untuk beramal terbaik untuk bermanfaat bagi diri, keluarga, dan umat maka dihindari lah sumber penghasilan yang haram, memiliki keturunan dengan jalan yang terhormat yaitu dengan menikah, dsb. Bukanlah harus membunuh hawa nafsu tetapi bagaimana kita harus mendidik hawa nafsu kita agar menjadi hawa nafsu mutma’inah, hawa nafsu yang selaras, hawa nafsu yang dipimpin dengan taqwa kepada Allah SWT.
Lalu bagaimana ramadhan dapat mendidik hawa nafsu kita sehingga menjadi nafsu yang mutma’inah?

Ramadan mendidik kita menjadi hamba Allah yang bertaqwa
Hakikat atau tujuan bulan Ramadan adalah mendidik kita menjadi hamba Allah yang bertaqwa, la allaqum tattaquun. Puasa yang kita laksanakan selama sebulan penuh di bulan Ramadan membuat kita lepas dari sifat binatang kemudian menjadi hamba Allah yang mulia, sebagai Khalifah di bumi. Karena di saat kita melaksanakan shaum ramadhan kita tak hanya meninggalkan sesuatu yang haram tetapi juga meninggalkan yang halal untuk meraih keridhaan Allah Swt. Apa maksud meninggalkan yang halal? Selama ramadhan kita tidak makan padahal makan halal bagi kita, kita tidak minum padahal minum halal untuk kita, tidak bersenggama padahal itu halal bagi yang sudah menikah, dan semua kehalalan itu kita tinggalkan semata-mata untuk meraih keridaan Allah. Karakteristik orang yang bertaqwa adalah menjalani perintah dan menjauhi larangan.
Islam memiliki 5 tingkatan perintah yaitu, haramat, makruhat/syubhat, mubahat/halalat, sunnah, wajib. 
Dari 5 tingkatan itu kita dapat lebih memahami bahwa saat kita shaum Ramadan kita tidak hanya meninggalkan yang haram atau syubhat tapi juga meninggalkan yang halal atau mubah sehingga fokus kita adalah melaksanakan yang wajib dan sunnah. Ketika kita akan melakukan sesuatu pertanyaan kita bukan lagi apakah ini halal, tetapi apakah ini diwajibkan, apakah ini disunnahkan? Ini lah karakteristik orang –orang yang bertaqwa menjalankan perintah Allah Swt yang wajib dan sunnah dan bersungguh-sungguh menjaga diri dan keluarga dari apa yang Allah larang. Dalam surat Al-Maidah ayat 88, Allah menerangkan,
Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.”
Sedangkan di surat Al-Baqarah ayat 172 berbunyi,
Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.”
Allah SWT memerintah manusia untuk makan yang halal dan thoyyib (baik), sedangkan pada ayat kedua ketika Allah memerintahkan hal yang sama, makan, pada orang beriman, perintah Allah adalah makanalah yang thoyyib (baik). Allah tidak lagi menggunakan kata halal karena bagi orang yang beriman aktivitas makan tak boleh hanya sebatas mengisi perut, tapi bagaimana makanan yag terisi adalah makanan yang tidak hanya jelas saja kehalalannya tapi juga pasti baik sehingga dia dapat beramal dan bekerja dengan optimal untuk menjalankan fungsi sebagai khalifah.
Melakukan hal yang sifatnya mubah memang diperbolehkan, jika dilakukan tidak dosa tetapi tidak juga mendapat pahala, alias bernilai 0. Jika dilihat dari tinngkatannya, hal-hal yang mubah lebih dekat kepada yang syubhat dan haram. Mengobrol adalah hal yang mubah tetapi lebih sering akhirnya kita terjebak pada ghibah apalagi fitnah, menonton juga hal yang mubah tetapi pada akhirnya sering melalaikan dan melenakan karena kualitas tontonan yang kurang baik dan tidak mendidik akhirnya hanya menyia-nyiakan waktu kita. Maka hal-hal yang mubah apabila tidak kita jaga dengan baik akan menjadi pintu-pintu maksiat yang tidak kita sadari, naudzubillahimin dzalik.
Sifat taqwa yang dimiliki Rasulullah SAW, para sahabat, dan shalafush shalih adalah sifat zuhud dan wara’. Sifat zuhud yaitu meninggalkan atau menggunakan secukupnya hal-hal yang halal sebatas untuk mendukung untuk beramal soleh, dan wara’ adalah meninggalkan hal-hal yang syubhat. Pada tingkatan inilah seseorang bisa meraih derajat taqwa dan Ramadan adalah bulan yang telah Allah siapkan agar kita bisa meraih derajat tersebut. Pada bulan Ramadan kita shaum atau menahan diri dari makan dan minum padahal itu halal bagi kita, kita disunnahkan untuk sahur atau sarapan awal waktu sehingga mengurangi waktu tidur kita padahal tidur halal bagi kita. Qiyamul lail, solat malam, pada saat bulan Ramadan setelah mengerjakan sholat isya kita disunnahkan untuk mengerjakan sholat tarawih dan witir padahal selepas sholat isya adalah waktu yang biasa kita gunakan untuk bercengkerama dengan keluarga kita sambil menonton tv atau makanan ringan, padahal itu semua halal untuk kita. Di bulan Ramadan juga kita dianjurkan untuk memperbanyak shodaqoh bahkan di akhir ramadhan kita diperintahkan untuk membayar zakat padahal harta yang kita miliki tentu halal untuk kita gunakan untuk apapun yang kita mau, tapi di bulan ramadhan kita diajak agar harta kita tak hanya habis untuk yang halal, tetapi ia juga harus kita bagi untuk yang bermanfaat agar harta kita berkah.
“Perumpamaan (nafkah yang di keluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir, seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Al Baqarah : 261)
“Tidak akan berkurang rezeki orang yang bersedekah, kecuali bertambah, bertambah, bertambah.”
(HR. Al Tirmidzi)
Ramadan juga dikenal sebagai bulan Al Qur’an, di mana pada bulan yang mulia itulah Allah SWT menurunkan Al Qur’an ke langit dunia sebagai rahmat dan petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka di bulan yang mulia ini, kita juga diperintahkan untuk menambah porsi waktu kita untuk berinteraksi dengan Al Qur’an, di mana pada bulan yang lain waktu kita lebih banyak kita isi dengan berbagai kesibukan dunia meskipun itu halal untuk kita kerjakan, agar kesibukan tak jadi tuhan baru dalam hidup kita.
Amalan-amalan itulah dan amalan sunnah yang lain yang kita kerjakan pada bulan ramadhan untuk meriah ketaqwaan di sisi Allah Swt yang akan memangkas habis maksiat kita sehingga sifat-sifat mulia kita muncul sehingga nafsu kita naik tingkat menjadi nafsu mutma’inah, dalam surat al-fajr (89): 27-30 Allah terangkan:
Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku,dan masuklah ke dalam surga-Ku.”
Semoga Allah bimbing kita agar mampu mendidik hawa nafsu kita menjadi nafsu mutma’inah hingga tiba saatnya nanti kita bisa termasuk dalam golongan orang-orang yang Allah panggil dalam surat Al Fajr tersebut. Aamiin.

Penutup
Ramadan sebagai bulan yang mulia apabila kita manfaatkan dengan baik insha Allah akan mebuat nafsu kita menjadi hawa nafsu mutma’inah. Oleh karena itulah dibutuhkan berbagai persiapan dan usaha sebelum bulan ramadhan untuk meingkatkan kuantitas dan kualitas amal shalih agar saat Ramadan tiba kita sudah akrab dengan berbagai amal soleh yang insha Allah akan mengantarkan kita menjadi hamba-hamba Allah yang bertaqwa, la allaqum tattaquun. Aamiin ya robbal a’alamiin.







Selasa, 31 Maret 2015

Pengantar Aqidah Islamiyah



oleh: Roni ‘Abdul Fattah
1. Makna ‘Aqidah Secara Bahasa dan Istilah
Makna ‘Aqidah secara bahasa
Dalam bahasa Arab aqidah berasal dari kata al-'aqdu (الْعَقْدُ) yang berarti ikatan, at-tautsiiqu (التَّوْثِيْقُ) yang berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat, al-ihkaamu (اْلإِحْكَامُ) yang artinya mengokohkan (menetapkan), dan ar-rabthu biquwwah (الرَّبْطُ بِقُوَّةٍ) yang berarti mengikat dengan kuat.
"Al-‘Aqdu" (ikatan) adalah lawan kata dari al-hallu (penguraian, pelepasan). Dan kata tersebut diambil dari kata kerja: " ‘Aqadahu" "Ya'qiduhu" (mengikatnya), " ‘Aqdan" (ikatan sumpah), seperti kata" ‘Uqdatun Nikah" (ikatan menikah). Allah Ta'ala berfirman;

"Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja ..." (QS. Al-Maa-idah: 89).

Aqidah artinya ketetapan yang tidak ada keraguan pada orang yang mengambil keputusan. Sedang pengertian aqidah dalam agama maksudnya adalah berhubungan dengan keyakinan bukan perbuatan. Seperti aqidah dengan adanya Allah dan diutusnya pada Rasul. Bentuk jamak dari aqidah adalah aqa-id. (Lihat kamus bahasa: Lisaanul ‘Arab, al-Qaamuusul Muhiith dan al-Mu'jamul Wasiith: (bab: ‘Aqada).

Jadi kesimpulannya, apa yang telah menjadi ketetapan hati seorang secara pasti adalah aqidah; baik itu benar ataupun salah. Jika dikatakan, “Ia mempunyai ‘aqidah yang benar”, berarti ia mengikat hatinya dengan keyakinan yang benar dan terbebas dari keraguan. ‘Aqidah merupakan perbuatan hati, yaitu kepercayaan hati dan pembenarannya terhadap sesuatu.

Makna ‘Aqidah secara istilah (syar’i)
Sedangkan menurut istilah (terminologi), aqidah adalah iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikit pun bagi orang yang meyakininya. Jadi, Aqidah Islamiyyah adalah keimanan yang teguh dan bersifat pasti kepada Allah dengan segala pelaksanaan kewajiban, bertauhid dan taat kepadaNya, beriman kepada para malaikatNya, rasul-rasulNya, kitab-kitabNya, hari Akhir, takdir baik dan buruk dan mengimani seluruh apa-apa yang telah shahih tentang prinsip-prinsip Agama (Ushuluddin), perkara-perkara yang ghaib, beriman kepada apa yang menjadi ijma' (konsensus) dari ulama salafush shalih, serta seluruh berita-berita qath'i (pasti), baik secara ilmiah maupun secara amaliyah yang telah ditetapkan menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah yang shahih serta ijma' salaf as-shalih. Hal ini disebut juga sebagai rukun iman.

2. Objek Kajian ‘Aqidah‘Aqidah jika dilihat dari sudut pandang sebagai ilmu -sesuai konsep manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah- meliputi topik-topik: Tauhid, Iman, Islam, masalah ghaibiyyaat (hal-hal ghaib), kenabian, takdir, berita-berita (tentang hal-hal yang telah lalu dan yang akan datang), dasar-dasar hukum yang qath’i (pasti), seluruh dasar-dasar agama dan keyakinan, termasuk pula sanggahan terhadap ahlul ahwa’ wal bida’ (pengikut hawa nafsu dan ahli bid’ah), semua aliran dan sekte yang menyempal lagi menyesatkan serta sikap terhadap mereka.

3. Penamaan ‘Aqidah Menurut Ahlus Sunnah Wal Jama’ahDisiplin ilmu ‘aqidah ini mempunyai nama lain yang sepadan dengannya, dan nama-nama tersebut berbeda antara Ahlus Sunnah dengan firqah-firqah (golongan-golongan) lainnya.

Di antara nama-nama ‘aqidah menurut ulama Ahlus Sunnah adalah:
1. Al-Iman ‘Aqidah disebut juga dengan al-Iman sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur-an dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena ‘aqidah membahas rukun iman yang enam dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Sebagaimana penyebutan al-Iman dalam sebuah hadits yang masyhur disebut dengan hadits Jibril ‘alaihissallam. Dan para ulama Ahlus Sunnah sering menyebut istilah ‘aqidah dengan al-Iman dalam kitab-kitab mereka.

2. ‘Aqidah (I’tiqaad dan ‘Aqaa-id)Para ulama Ahlus Sunnah sering menyebut ilmu ‘aqidah dengan istilah ‘Aqidah Salaf: ‘Aqidah Ahlul Atsar dan al-I’tiqaad di dalam kitab-kitab mereka.

3. Tauhid‘Aqidah dinamakan dengan Tauhid karena pembahasannya berkisar seputar Tauhid atau pengesaan kepada Allah di dalam Rububiyyah, Uluhiyyah dan Asma’ wa Shifat. Jadi, Tauhid merupakan kajian ilmu ‘aqidah yang paling mulia dan merupakan tujuan utamanya. Oleh karena itulah ilmu ini disebut dengan ilmu Tauhid secara umum menurut ulama Salaf.

4. As-SunnahAs-Sunnah artinya jalan. ‘Aqidah Salaf disebut As-Sunnah karena para penganutnya mengikuti jalan yang ditempuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat radhiyallahu anhum di dalam masalah ‘aqidah. Dan istilah ini merupakan istilah masyhur (populer) pada tiga generasi pertama.

5. Ushuluddin dan UshuluddiyanahUshul artinya rukun-rukun Iman, rukun-rukun Islam dan masalah-masalah yang qath’i serta hal-hal yang telah menjadi kesepakatan para ulama.

6. Al-Fiqhul AkbarIni adalah nama lain Ushuluddin dan kebalikan dari al-Fiqhul Ashghar, yaitu kumpulan hukum-hukum ijtihadi.

7. Asy-Syari’ahMaksudnya adalah segala sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah Azza Wa Jalla dan Rasul-Nya berupa jalan-jalan petunjuk, terutama dan yang paling pokok adalah Ushuluddin (masalah-masalah ‘aqidah).

Nama-nama itulah yang terkenal menurut Ahli Sunnah dalam ilmu ‘aqidah.

4. Sumber-Sumber ‘Aqidah Yang Benar
‘Aqidah adalah tauqifiyah. Artinya, tidak bisa ditetapkan kecuali dengan dalil syar'i, tidak ada medan ijtihad dan berpendapat di dalam­nya. Karena itulah sumber-sumbernya terbatas kepada apa yang ada di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah. Sebab tidak seorang pun yang lebih mengetahui tentang Allah, tentang apa-apa yang wajib bagiNya dan apa yang harus disucikan dariNya melainkan Allah sendiri. Dan tidak seorang pun sesudah Allah yang lebih mengetahui tentang Allah selain Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dan para pengikutnya dalam mengambil aqidah terbatas pada Al-Qur'an dan As-Sunnah. Maka segala apa yang ditunjukkan oleh Al-Qur'an dan As-Sun­nah tentang hak Allah mereka mengimaninya, meyakininya dan men­gamalkannya. Sedangkan apa yang tidak ditunjukkan oleh Al-Qur'an dan As-Sunnah mereka menolak dan menafikannya dari Allah. Karena itu tidak ada pertentangan di antara mereka di dalam i'tiqad. Bahkan aqidah mereka adalah satu dan jama'ah mereka juga satu. Karena Allah sudah menjamin orang yang berpegang teguh dengan Al-Qur'an dan Sunnah RasulNya dengan kesatuan kata, kebenaran aqidah dan kesatuan manhaj. Allah subhannahu wa ta'ala berfirman;

"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, ..." (QS. Ali ‘Imran: 103)

"Maka jika datang kepadamu petunjuk daripadaKu, lalu barang­siapa yang mengikut petunjukKu, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka." (QS. Thaha: 123)

Karena itulah mereka dinamakan firqah najiyah (golongan yang selamat). Sebab Rasulullah telah bersaksi bahwa merekalah yang selamat, ketika memberitahukan bahwa umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan yang kesemuanya di Neraka, kecuali satu golongan. Ketika ditanya tentang yang satu itu, beliau menjawab:

هُـمْ مَنْ كَانَ عَلَـى مِثْلِ مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَـابِـْي

"Mereka adalah orang yang berada di atas ajaran yang sama dengan ajaranku pada hari ini, dan para sahabatku." (HR. Ahmad)

Kebenaran sabda baginda Rasul shallallaahu ‘alaihi wa salam tersebut telah terbukti ketika sebagian manusia membangun aqidahnya di atas landasan selain Al-Qur’an dan As-Sunnah, yaitu di atas landasan ilmu kalam dan kaidah-kaidah manthiq yang diwarisi dari filsafat Yunani dan Romawi maka terjadilah penyimpangan dan perpecahan dalam aqidah yang mengakibatkan pecahnya umat dan retaknya masyarakat Islam.

5. Penyimpangan ‘Aqidah dan Cara Penanggulangannya
Penyimpangan dari aqidah yang benar adalah kehancuran dan kesesatan. Karena aqidah yang benar merupakan pendorong utama bagi amal yang bermanfaat. Tanpa aqidah yang benar seseorang akan menjadi mangsa bagi persangkaan dan keragu-raguan yang lama-kelamaan mungkin menumpuk dan menghalangi dari pandangan yang benar terhadap jalan hidup kebahagiaan, sehingga hidupnya terasa sempit lalu ia ingin terbebas dari kesempitan tersebut dengan menyudahi hidup, sekali pun dengan bunuh diri, sebagaimana yang terjadi pada banyak orang yang telah kehilangan hidayah aqidah yang benar.

Masyarakat yang tidak dibimbing dan dipimpin oleh aqidah yang benar merupakan masyarakat bahimi (hewani), tidak memiliki prinsip-prinsip hidup bahagia, sekali pun mereka bergelimang materi tetapi terkadang justru sering menyeret mereka pada kehancuran, sebagaimana yang kita lihat pada masyarakat jahiliyah.

Karena sesungguhnya kekayaan materi memerlukan taujih (pengarahan) dalam penggunaannya, dan tidak ada pemberi arahan yang benar kecuali aqidah shahihah. Allah subhannahu wa ta'ala berfirman:

"Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih." (QS. Al-Mu'minun: 51)

“Dan Sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud kurnia dari kami. (kami berfirman): "Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud", dan Kami telah melunakkan besi untuknya, (yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah amalan yang saleh. Sesungguhnya aku melihat apa yang kamu kerjakan. Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala. Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakiNya dari gedung-gedung yang Tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah Hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih.” (QS. Saba: 11-13)

Maka kekuatan aqidah tidak boleh dipisahkan dari kekuatan madiyah (materi). Jika hal itu dilakukan dengan menyeleweng kepada aqidah batil, maka kekuatan materi akan berubah menjadi sarana penghancur dan alat perusak, seperti yang terjadi di negara-negara kafir yang memiliki materi, tetapi tidak memiliki aqidah shahihah.

Sebab-sebab penyimpangan dari aqidah shahihah yang harus kita ketahui yaitu:

1. Kebodohan terhadap aqidah shahihah, karena tidak mau (enggan) mempelajari dan mengajarkannya, atau karena kurangnya perhatian terhadapnya. Sehingga tumbuh suatu generasi yang tidak mengenal aqidah shahihah dan juga tidak mengetahui lawan atau kebalikannya. Maka akibatnya, mereka meyakini yang haq sebagai sesuatu yang batil dan yang batil dianggap sebagai yang haq. Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Umar radhiallaahu anhu;

"Sesungguhnya ikatan simpul Islam akan pudar satu demi satu, manakala di dalam Islam terdapat orang yang tumbuh tanpa mengenal kejahiliyahan."

2. Ta'ashshub (fanatik) kepada sesuatu yang diwarisi dari bapak dan nenek moyangnya, sekali pun hal itu batil, dan mencampakkan apa yang menyalahinya, sekali pun hal itu benar. Sebagaimana yang difirmankan Allah subhannahu wa ta'ala;

"Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah" mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?" (QS. Al-Baqarah: 170)

3. Taqlid buta, dengan mengambil pendapat manusia dalam masalah aqidah tanpa mengetahui dalilnya dan tanpa menyelidiki seberapa jauh kebenarannya. Sebagaimana yang terjadi pada golongan-golongan seperti Mu'tazilah, Jahmiyah dan lainnya. Mereka bertaqlid kepada orang-orang sebelum mereka dari para imam sesat, sehingga mereka juga sesat, jauh dari aqidah shahihah.

4. Ghuluw (berlebihan) dalam mencintai para wali dan orang-orang shalih, serta mengangkat mereka di atas derajat yang semestinya, sehingga meyakini pada diri mereka sesuatu yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah, baik berupa mendatangkan kemanfaatan maupun menolak kemudharatan.

Juga menjadikan para wali itu sebagai perantara antara Allah dan makhlukNya, sehingga sampai pada tingkat penyembahan para wali tersebut dan bukan menyembah Allah. Mereka bertaqarrub kepada kuburan para wali itu dengan hewan qurban, nadzar, do'a, istighatsah dan meminta pertolongan.

Seba­gaimana yang terjadi pada kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam terhadap orang-orang shalih ketika mereka berkata;

"Dan mereka berkata; “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwaa', Yaghuts, Ya'uq dan Nasr”. (QS. Nuh: 23)

Dan demikianlah yang terjadi pada pengagung-pengagung kuburan di berbagai negeri sekarang ini.

5. Ghaflah (lalai) terhadap perenungan ayat-ayat Allah yang terhampar di jagat raya ini (ayat-ayat kauniyah) dan ayat-ayat Allah yang tertuang dalam KitabNya (ayat-ayat Qur'aniyah). Di samping itu, juga terbuai dengan hasil-hasil teknologi dan kebudayaan, sampai-sampai mengira bahwa itu semua adalah hasil kreasi manusia semata, sehingga mereka mengagung-agungkan manusia serta menisbatkan seluruh kemajuan ini kepada jerih payah dan penemuan manusia semata.

Sebagaimana kesombongan Qarun yang mengatakan;

"Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku". (QS. Al-Qashash: 78)

"...Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepinta­ranku ...". (QS. Az-Zumar: 49)

Mereka tidak berpikir dan tidak pula melihat keagungan Tuhan yang telah menciptakan alam ini dan yang telah menimbun berbagai macam keistimewaan di dalamnya. Juga yang telah menciptakan manusia lengkap dengan bekal keahlian dan kemampuan guna menemukan keistimewaan-keistimewaan alam serta mengfungsikannya demi kepentingan manusia.

"Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu". (QS. Ash-Shaffat: 96)

"Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah, ...". (QS. Al-A'raf: 185)

"Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menu­runkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu, dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendakNya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. Dan Dia telah menunduk­kan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu ma­lam dan siang. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sungguh manusia itu sangat zhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)”. (QS. Ibrahim: 32-34)

Pada umumnya rumah tangga sekarang ini kosong dari pen­garahan yang benar (menurut Islam). Padahal baginda Rasulullah telah bersabda;

مَا مِنْ مَوْلُوْدٍ إِلاَّ يُوْلَدُ عَلىَ الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

"Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), kedua orang tuanyalah yang menjadikan ia yahudi, nasrani atau majusi." (HR. Al-Bukhari, no: 1358 dan Muslim, no: 2658)

Jadi, orangtua mempunyai peranan besar dalam meluruskan jalan hidup anak-anaknya. Enggannya media pendidikan dan media informasi melaksanakan tugasnya. Kurikulum pendidikan kebanyakan tidak memberikan perhatian yang cukup terhadap pendidikan agama Islam, bahkan ada yang tidak peduli sama sekali. Sedangkan media informasi, baik media cetak maupun elektronik berubah menjadi sarana penghancur dan perusak, atau paling tidak hanya memfokuskan pada hal-hal yang bersifat materi dan hiburan semata. Tidak memperhatikan hal-hal yang dapat meluruskan moral dan menanamkan aqidah serta menangkis aliran-aliran sesat. Dari sini, muncullah generasi yang telanjang tanpa senjata, yang tak berdaya di hadapan pasukan kekufuran yang lengkap persenjataannya.

Cara menanggulangi penyimpangan di atas teringkas dalam point-point berikut ini:

1. Kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam untuk mengambil aqidah shahihah. Sebagaimana para Salaf Shalih mengambil aqidah mereka dari keduanya. Tidak akan dapat memperbaiki akhir umat ini kecuali apa yang telah memperbaiki umat pendahulunya. Juga dengan mengkaji aqidah golongan sesat dan mengenal syubhat-syubhat mereka untuk kita bantah dan kita waspadai, karena siapa yang tidak mengenal keburukan, ia dikhawatirkan terperosok ke dalamnya.

2. Memberi perhatian pada pengajaran aqidah shahihah, aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, di berbagai jenjang pendidikan. Memberi jam pelajaran yang cukup serta mengadakan evaluasi yang ketat dalam menyajikan materi ini. Harus ditetapkan kitab-kitab ‘aqidah yang bermanhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah sebagai materi pelajaran. Sedangkan kitab-kitab ‘aqidah dari kelompok yang sesat dan menyimpang harus dijauhkan.

3. Menyebar para da'i yang meluruskan aqidah umat Islam dengan mengajarkan aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah serta menjawab dan menolak seluruh aqidah batil.

Jika kamu sudah membaca ini, artinya in sha allah sudah ada ilmu yang sudah kamu dapat. Bagikanlah nikmat ilmu ini ke orang lain, sebagai sedekah dan wujud dakwah secara sederhana.